Wonogiri
– Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) melalui Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sukses melaksanakan kegiatan Sosialisasi Diversifikasi Olahan Tepung Beras Hitam pada Selasa, 30 September 2025, bertempat di Balai Desa Glesungrejo. Kegiatan ini merupakan tahap awal dari Program Mahasiswa Berdampak Tahun Anggaran 2025, yang secara khusus diarahkan untuk pemberdayaan masyarakat melalui inovasi pangan lokal. Acara dimulai pukul 09.00 WIB dengan suasana penuh khidmat dan antusiasme peserta.

Kegiatan dibuka oleh Ketua Pengabdi M. Al Haris, S.Si., M.Si. yang menyampaikan latar belakang pelaksanaan program serta pentingnya kegiatan ini dalam meningkatkan kreativitas masyarakat desa melalui pemanfaatan sumber daya lokal. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Pertanian (FSTP) UNIMUS, Dr. Nurhidajah, S.TP., M.Si., yang juga merupakan dosen anggota pelaksana program. Dalam pesannya, beliau menegaskan bahwa peran perguruan tinggi tidak hanya terbatas pada bidang akademik, tetapi juga harus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Sosialisasi ini diharapkan menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat agar lebih kreatif dan inovatif.

Acara secara resmi dibuka oleh Kepala Desa Glesungrejo, Bapak Andi Wirawan, yang menyampaikan apresiasinya kepada pihak kampus dan mahasiswa. Beliau menuturkan bahwa masyarakat sangat terbuka terhadap kegiatan pemberdayaan ini, karena beras hitam merupakan kekayaan lokal yang sudah lama dikenal namun belum dimanfaatkan secara optimal. Dengan adanya program ini, diharapkan potensi beras hitam dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.

Usai pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi sosialisasi oleh narasumber utama Dr. Nurhidajah, S.TP., M.Si., peneliti yang memiliki paten inovasi pengolahan beras hitam. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa beras hitam mengandung serat, vitamin, mineral, dan antosianin, yang berfungsi sebagai antioksidan alami dan bermanfaat dalam mencegah penyakit degeneratif seperti diabetes serta menjaga kesehatan jantung. Beliau juga memperkenalkan berbagai contoh inovasi olahan, antara lain tepung beras hitam, cookies, bubur instan, dan minuman serbuk, yang dapat dikembangkan dengan teknologi sederhana di tingkat rumah tangga.

Selain aspek teknis, Dr. Nurhidajah menekankan pentingnya strategi pengembangan usaha, termasuk branding produk beras hitam sebagai pangan fungsional alami, sertifikasi, serta pelabelan gizi agar mampu bersaing di pasar domestik maupun berpotensi ekspor. Sesi tanya jawab berjalan interaktif dengan banyak pertanyaan dari peserta seputar teknik pengolahan sederhana, prospek usaha kecil menengah, dan strategi pemasaran produk. Salah satu peserta menyampaikan kesan positifnya, “Awalnya saya mengira beras hitam hanya bisa dimasak seperti beras biasa. Tapi setelah mendengar penjelasan ini, ternyata banyak sekali olahan yang bisa dibuat. Ini sangat membuka wawasan kami, dan saya ingin mencoba membuat produk olahan sederhana di rumah,” ujarnya penuh semangat.

Kegiatan ditutup dengan ajakan kepada masyarakat untuk tetap konsisten mengikuti rangkaian program berikutnya, seperti pendampingan praktik, pelatihan kewirausahaan, dan pengembangan produk siap jual. Secara keseluruhan, kegiatan Sosialisasi Diversifikasi Olahan Tepung Beras Hitam berjalan dengan lancar, edukatif, dan partisipatif. Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat Desa Glesungrejo semakin termotivasi untuk mengembangkan potensi lokal dan menjadikan beras hitam sebagai produk unggulan desa yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta daya saing kuat di pasar.

Loading

Leave a Reply

one × four =